Analisis KR (24/09/2011)

Pesta demokrasi lokal dalam bentuk Pemilu Kepala Daerah di Kota Yogyakarta bakal digelar Minggu 25 September 2011.  Tiga pasangan calon kepala daerah dan wakil kepala daerah pun telah ditetapkan sebagai peserta  yang diusung oleh koalisi partai-partai baik yang memiliki kursi di DPRD maupun yang tidak.  Tak ayal suasana kompetisi pun memasuki fase yang semakin menghangat, mengingat semua  pasangan calon telah mempersiapkan diri untuk menggapai kemenangan.

Fenomena in logis mengingat pemilukada merupakan salah satu bagian dari aktivitas politik praktis, yang dalam terminologi akademik, politik diartikan secara sederhana sebagai seni untuk mendapatkan kekuasaan serta  mempertahankannya. Dengan demikian ajang pertarunganpun tidak hanya melibatkan calon pasangan baru yang akan ikut memperebutkan kekuasaan, namun juga pasangan calon incumbent yang ingin mempertahankannya. Tulisan ini mencoba mengidentifikasi faktor-faktor determinan yang bisa menentukan kemenangan dalam Pemilukada dengan berdasarkan pada fakta empirik yang pernah terjadi baik dalam skop nasional maupun lokal.

Banyak kalangan memandang bahwa persoalan memenangkan Pilkada hanya terletak pada sisi finansial belaka.  Pendapat itu tidak sepenuhnya benar, karena memang faktor finansial itu penting, namun tidak yang paling menentukan. Berdasarkan pengalaman empirik pelaksanaan  Pemilukada dan Pemilu di Indonesia, dapat disarikan adanya Faktor 4-M  yang menentukan kemenangan pasangan calon dalam pertarungan di Pilkada, yaitu sebagai berikut:

Faktor 4-M yang pertama adalah Mesin Politik. Yang dimaksud dengan mesin politik adalah sarana atau perangkat sistemik struktural yang sangat efektif untuk melakukan fungsi  komunikasi politik, sosialisasi politik, rekrutmen sampai penggalangan partisipasi konstituen untuk menggolkan pasangan yang diusungnya. Kendaraan politik mapan ditandai dengan kuatnya  dukungan basis massa, sistem yang sudah solid, serta pengalaman yang cukup. Semakin kuat mesin sebuah politik, maka semakin mudah dalam mempermulus jalan calon memenangkan pilkada, karena mesin politik akan mudah menggarap, membentuk opini massa dengan jaringan yang telah ada. Tak ayal fenomena koalisi  antar beberapa parpol mapan akan sangat memperkuat mesin politik yang ada.

Namun, keberadaan mesin politik biasanya hanya menguntungkan bagi calon yang menggunakan  pencalonan melalui jalur partai, dan tidak berlaku bagi calon jalur independen.  Bagi calon yang diusung  partai, maka mesin politik sudah terbangun dan tinggal menggerakannya. Sementara bagi calon independen yang biasanya hanya mengandalkan aspek popularitas sulit untuk memanfaatkan mesin politik mapan yang ada. Akibatnya dari beberapa pengalaman praktek Pilkada di Indonesa, hanya ada sedikit pemenang Pilkada yang terpilih melalui jalur independen, yaitu aktor Dicky Chandra yang terpilih sebagai Wakil Bupati  Garut, yang saat ini telah mengundurkan diri.

Selanjutnya faktor M yang kedua adalah Mass communication (komunikasi massa). Tak diragukan lagi bahwa komunikasi massa sangat efektif menentukan kemenangan calon, mengingat kemampuannya untuk membentuk opini dan pencitraan kepada publik.  Gaya komunikasi Presiden SBY barangkali bisa dijadikan contoh. Politik pencitraan yang dikemasnya  telah menarik para pemilih untuk menjatuhkan pilihan kepadanya, karena kesuksesan komunikasi massa yang digalang tim suksesnya. Citra SBY yang kalem, gagah, berbicara teratur dan seolah tidak ada cacat telah berhasil membius sebagian besar warga untuk mendaulatnya sebagai presiden RI.

Faktor M yang ketiga adalah Momentum. Pengertian momentum  secara sederhana adalah peristiwa sesaat yang sangat strategis bagi calon untuk menarik keuntungan waktu.  Momentum bisa terjadi secara alami, namun bisa juga direkayasa atau diciptakan. Kemunculan Megawati sebagai presiden RI tentunya tak lepas dari momentum dikuyo-kuyo dirinya oleh Pemerintah Orde Baru yang terkenal dengan peristiwa Kerusuhan  27 juli. Peristiwa pengrusakan Kantor DPP PDI oleh sekelompok oknum saat itu telah mengangkat pamor Megawati menjadi calon yang dinistakan. Contoh lain adalah munculnya SBY sebagai presiden pada periode pertama juga tak lepas dari momentum dikuyo-kuyonya SBY oleh Taufik Kiemas yang menyatakan SBY sebagai kekanak-kanakan saat mundur dari kabinet Mega untuk berlaga melawan Mega. Kasus melodrama yang dilakukan kedua tokoh tersebut tampak memunculkamn simpati pada para pemilih yang merasa iba dengan tokoh yang dinistakan. Barangkali momentum ini juga bisa dilakukan di skop yang lebih kecil di daerah.

Faktor M terakhir adalah Materi. Tak disangkal bahwa berlaga di ajang pilkada yang membutuhkan mesin politik  dan komunikasi massa memerlukan adanya dukungan materi yang kuat. Bahkan untuk calon independen malah akan lebih berat  mengingat harus mengumpulkan dukungan 4%  dari total penduduk  Apabila setiap KTP dukungan harus dialokasikan sejumlah materi, maka betapa besar materi  yang harus dialokasikan. Apalagi pada saat kampanye, kebutuhan akan lebih besar lagi mengingat konstituen dan tim sukses membutuhkan dukungan logistik yang cukup.

Di samping Faktor 4 M tersebut, sebenarnya masih ada faktor yang lebih menentukan yaitu faktor tangan Tuhan, karena kendati telah didukung semua faktor 4 M di atas, namun apabila Tuhan berkehendak lain maka semuanya akan berantakan. Oleh sebab itu, hendaknya semua calom bersikap sabar dan menerima hasil apapun setelah semua upaya dilakukan,  karena hasil akhir adalah berada di tangan Nya. Dengan demikian jika semua pihak bisa melakukannya, maka Pemilukada akan kondusif, aman dan damai. Selamat menggunakan hak pilih warga kota Yogyakarta !

Penulis adalah Ketua Jurusan Ilmu Pemerintahan UMY